Suku Tengger: Permata Indonesia, Penjaga Kearifan Lokal dan Cerminan Bangsa Indonesia yang Luhur

by - Maret 09, 2014

Oleh: Hikmatus Sabilil Izzah
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik


            Pendahuluan
            Suku Tengger adalah suku yang mendiami kawasan Gunung Bromo dan tersebar diempat kecamatan di Jawa Timur yakni: Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang. Suku Tengger merupakan permata Indonesia, kaya akan pusaka alam dan kaya akan pusaka budaya yang tak pantas untuk dilupakan. Hingga kini masyarakat tengger masih memegang teguh warisan budaya yang luhur walaupun pengaruh globalisasi kian meradang.
            Dari namanya asal-usul kata tengger berasal gabungan dua kata, yaitu teng dan ger. Keduanya merupakan akhiran kata dari dua nama, yaitu Roro An-teng dan Joko Se-ger. Hal itu terkait Legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Menurut penuturan masyarakat setempat, diyakini bahwa mereka adalah keturunan Roro Anteng, yaitu seorang putri dari raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu putera seorang brahmana. Asal mula nama suku Tengger diambil dari nama belakang Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”.
Suku Tengger di Gunung Bromo rutin mengadakan beberapa upacara adat dan yang terbesar adalah Hari Raya Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo. Saat perayaan hari besar suku Tengger ini Gunung Bromo bukan hanya dikunjungi umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tetapi umat Hindu dari Bali yang merasa mereka adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit. Tidak hanya itu, saat upacara ini berlangsung, Pura Luhur Poten Bromo yang berada di antara Gunung Batok dan Gunung Bromo akan dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai negara dan penjuru Tanah Air.

Selain upacara Yadnya Kasada, ada juga Hari Raya Karo dan Unan-Unan. Berhubungan dengan siklus kehidupan warga suku Tengger juga diadakan ritual adat yaitu: saat kelahiran (upacara sayutcuplak pusertugel kuncung), menikah (upacarawalagara), kematian (entas-entas, dan lainnya), upacara adat berhubungan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan juga terkait adanya gejala alam seperti leliwet dan barikan.
Makalah ini ditulis dengan tujuan membuka tabir kehidupan masyarakat suku Tengger dikaitkan dengan kearifan lokal serta mulitikulturalisme dan keberagaman agama yang ada di sekitarnya.

Hubungan Kearifan Lokal dengan Kehidupan Bermasyarakat Suku Tengger

Sebagaimana suatu masyarakat yang berpegang teguh pada warisan budaya leluhurnya, suku Tengger adalah cerminannya. Suku Tengger masih kental dengan nafas tradisi budaya yang luhur yang sampai kini masih terjaga dengan baik di tengah kondisi globalisasi yang mengancam budaya bangsa.
Salah satu bentuk kearifan lokal suku Tengger yang dipatuhi hingga kini adalah tradisi patuh terhadap empat guru, atau Guru Papat yakni: 1) Guru sing Kuwasa (Tuhan Yang Maha Kuasa), 2) Guru Wong Tuwa (Kedua orang tua yang mengasuh dan membesarkan”, 3) Guru Pemerintah (Penguasa negara yang memberikan perlindungan hokum), 4) Guru Ngaji atau Guru Pasinaon (Orang berilmu yang mengajarkan ilmu pengetahuan). Apabila seseorang patuh dan taat (bekti) kepada empat guru ini, maka dipercaya orang tersebut akan hidup nyaman, tenteram, damai dan sejahtera. Namun sebaliknya, jika tidak patuh niscaya hidupnya akan sengsara.
Dalam tradisi suku Tengger, kepatuhan dan ketaatan pertama harus ditujukan kepada Guru Sing Kuwasa, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta semesta alam beserta seluruh isinya. Guru Sing Kuwasa, tempat berlindung dan memohon. Upacara-upacara keagamaan yang rutin digelar masyarakat suku Tengger adalah salah satu bukti nyata ketaatan terhadap Guru Sing Kuwasa. Suku Tengger selalu taat demi terwujudnya keselarasan antara dirinya dengan Yang Maha Agung, para dewa, roh-roh halus, dan roh-roh leluhur mereka yang bersemayam di sekitar mereka. Apabila tidak terwujud keselarasan, maka dipercaya bencana atau musibah akan datang.
Dalam kepercayaan gaib suku Tengger, ada yang dinamakan walat, yakni bencana yang datang akibat dari seseorang yang tidak patuh terhadap aturan yang ditetapkan sesuai dengan kearifan lokal yang mreka yakini atau melanggar larangan dari Guru Sing Kuwasa.
Misalnya masyarakaat suku Tengger dilarang mncuri, sampai saat ini tingkat kejahatan di wilayah Tengger hampir menunjukkan angka nol. Hal ini selaras dengan kata Tengger yang dikatakan bahwa bermakna tengering budi luhur atau tanda keluhuran budi pekerti (Sutarto, 2001)
Ada suatu pernyataan di Tengger yakni, memek dom siji mengko mbaleken prekul artinya mengambil satu jarum mengembalikan satu kapak. Artinya, buah kejahatan yang diperbuat imbasnya akan jauh lebih besar dibanding kejahatan yang dilakukan., sehingga mengapa masyarakat suku Tengger sangat takut mencuri atau berbuat jahat.
Guru kedua yang dipatuhi adalah Guru Wong Tuwa yakni kedua orang tua. Orang tua adalah orang membesarkan dengan tulus. Suku Tengger sangat menghormati orang tua, anak-anak dari kecil telah diajarkan untuk senantiasa patuh.
Guru ketiga ditujukan kepada Guru Pemerintah yakni pemimpin negeri. Suku Tengger berkeyakinan bahwa mereka adalah bagian dari negara, dan Guru Pemerintah adalah pemimpinnya. Apabila patuh terhadap pemimpin negara, kana mereka akan nyaman, selamat dan terlindungi. Di kawasan Tengger belum pernah dijumpai aksi demonstrasi menentang kebijakan yang diputuskan pemerintah. Ketaatan mereka juga terwujud dalam membayar pajak, sampai-sampai bukan petugas yang mendatangi warga tapi warga yang mendatangi petugas.
Guru keempat yang dipatuhi suku Tengger ialah Guru Ngaji atau Guru Pasinaon. Guru Ngaji bagi suku Tengger adalah dukun Tengger yang menguasai ilmu agama dan tradisi luhur, sedangkan Guru Pasinaon adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan, membaca, menulis dan berhitung.
Suku Tengger meskipun mayoritas beragama hindu, tetapi mereka sangat menghormati orang atau tamu yag berkunjung ke rumah mereka. Pelayanan terhadap tamu sangat baik. Bahkan sajian makanan yang mereka berikan kepada tamu terkadang lebih baik daripada yang mereka makan dan minum sehari-hari. Mereka sangat bahagia apabila ada tamu yang mau berbincang-bincang dan makan di dapur sambil duduk di dekat perapian, hal ini menunjukkan rasa kekeluargaan suku Tengger yang tinggi. Sambutan hangat walaupun berbeda suku, agama dan budaya merupakan cerminan pribadi yang luhur. Sinisme dan antipati terhadap agama dan budaya lain tidak ditemui pada masyarakat suku Tengger.
Kearifan lokal lain dari suku Tengger adalah ajaran Welas Asih Pepitu (Tujuh Ajaran Cinta Kasih) yakni cinta kepada: 1)Hong Pukulun atau Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Esa), 2)Ibu Pertiwi (Tanah Air), 3)Bapa-biyung (Ayah-ibu), 4)Jiwa-raga (Jasmani-rohani), 5)Sapadha-padhane (Sesama), 6)Sato Kewan (Binatang Peliharaan), 7)Tandur Tuwuh (Tanaman). Dan kearifan-kearifan lokal di suku Tengger yang masih banyak lagi.

Penutup
Kearifan-kearifan lokal yang terdapat di suku Tengger membuat mereka bisa hidup berdampingan secara rukun dengan masyarakat lain di sekitar wilayah mereka. Kearifan lokal yang ada menjaga suku Tengger dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesame manusia tanpa membedakan suku, agama dan budaya. Cerminan inilah yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia, ditengah isu primordialisme dan etnosentrisme, suku Tengger dapat dijadikan panutan bahwa meskipun mereka memiliki ajaran tradisi yang dijunjung tinggi dan dipatuhi hingga kini, namun mereka tetap rendah hati. Saling hormat dan menghormati dengan masyarakat lain.
Kearifan lokal dalam kehidupan suku Tengger dapat menjadi rujukan kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk. Setiap sikap memberikan ajaran luhur, dan dapat berfungsi sebagai tameng untuk menangkal budaya-budaya yang tidak sesuai dengan Indonesia akibat proses globalisasi dan westernisasi.

Daftar Pustaka
___________. 2006. Saya Orang Tengger, Saya Punya Agama. Jember: Kompyawisda bekerjasama dengan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu
Widyaprakoso, Simanhadi. 1994. Masyarakat Tengger Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
___________.  2003. “Perempuan Tengger Sosok yang Setia pada Tradisi”. Bende Media Informasi Seni dan Budaya. Surabaya: Pemerintah Propinsi Jawa Timur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Taman Budaya.


*ditulis sebagai persyaratan mengikuti Study Excursie Universitas Airlangga 2013

You May Also Like

0 komentar